Oleh: kusyardi | April 24, 2010

Guru Inspiratif….

Hu Wen Chiang, pakar pendidikan dari Taiwan mengatakan, ada empat tipe guru. Pertama, guru yang hanya bisa memindahkan informasi dari buku ke peserta didik. Kedua, guru yang bisa menjelaskan sebuah masalah atau bahan ajar. Ketiga, guru yang bisa menunjukkan bagaimana materi ajar dengan baik. Keempat, guru yang bisa menjadi inspirasi bagi muridnya untuk maju. (Kompas, 5 April 2010)

Indonesia, menurut beliau, membutuhkan guru-guru tipe yang terakhir. Guru yang bisa menjadi inspirasi bagi muridnya untuk maju. Bisakah?

Kita tahu menjadi guru yang sanggup menjadi inspirasi bagi murid-murid tidak mudah. Benar-benar tidak mudah. Alih-alih menjadi inspirasi bagi para siswanya, menjadi contoh untuk hal-hal yang baik saja seringkali sulit.

Menjadi inspirasi tidak lain tentulah seorang guru harus mampu mendongkrak semangat, semangat untuk maju. Tidak semua guru bisa melakukannya. Karena, untuk menjadi guru yang mampu mendongkrak semangat para siswa, guru haruslah seorang pembelajar. Seseorang yang gemar belajar. Kapan saja, di mana saja. Dengan cara begini setidaknya kita bisa menjadi contoh kepada siswa-siswa kita bahwa untuk maju haruslah belajar.

Seorang murid akan percaya kepada omongan gurunya bahwa kerja keras, sebagai misal, adalah tiket untuk menjadi pemenang dalam kompetisi yang bernama kehidupan ini. Tetapi seorang murid benar-benar akan terinspirasi manakala guru yang mengatakan hal tersebut benar-benar, seorang pekerja keras!

Suatu hari telepon seluler saya berdering. Saya angkat, ternyata suara seorang ibu. Dari suara tersebut sang Ibu memperkenalkan diri bahwa ibu ini adalah orang tua dari salah satu siswa saya. Sebut saja siswa saya tersebut bernama Umar. Sebuah pertanyaan dilontarkan sang ibu. Begini pertanyaannya: “Pak, Umar, anak saya ingin menjadi guru, jika nanti lulus SMP anak saya harus melanjutkan sekolah ke mana?”

Saya maklum dengan pertanyaan ini. Karena ibu ini mengaku tidak tahu seluk-beluk sekolah. Hari-harinya disibukkan dengan kegiatan di sawah. Sebagai buruh tani. Saya menjawab demikian: “ibu, setelah Umar lulus dari SMP, ibu bisa mendaftarkan Umar ke SMA atau SMK, terserah mana yang paling diminatinya, setelah lulus dari SMA atau SMK dapat melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Keguruan. Mudah-mudahan Umar, bisa menggapai cita-citanya.” Demikian jawaban saya.

Saya tidak tahu apakah jawaban saya memuaskan atau malah membingungkan ibu tersebut. Tetapi satu hal yang membuat saya sedikit “curiga” atas “desakan” siapa si anak ini berkeinginan untuk menjadi guru? Ibunya? Gurunya? Atau ada pihak lain yang menjadikan dia terinspirasi menjadi guru?

Memang ada beberapa anak pernah mengangkat tangan ketika di kelas saya bertanya: siapa yang bercita-cita menjadi guru? Tetapi bukan Umar. Saya masih ingat semua yang angkat tangan: perempuan.

Kepada siswi-siswi saya yang –dulu ketika saya tanya–bercita-cita jadi guru, saya tahu alasannya: karena cerita saya hampir 3 tahun yang lalu tentang kehidupan guru-guru di negara jiran, Malaysia. Nampaknya mereka tertarik denggan cerita yang saya narasikan dengan baik. Beruntung, saya pernah memiliki beberapa teman satu jurusan ketika di IKIP Yogyakarta yang berkewarganegaraan Malaysia dan mendapat kesempatan tugas belajar di Indonesia. Sehingga cerita saya menjadi lebih bertenaga sehingga mampu menginspirasi beberapa siswi. Tetapi saya sungguh tidak mengerti mengapa Umar bercita-cita menjadi guru. Apakah alasannya sama seperti beberapa teman perempuan sekelasnya? Atau ada alasan lain? Masih misteri. Sampai pada suatu kesempatan, iseng-iseng saya temui dan saya tanyai Umar. Dia banyak cerita ke saya, termasuk alasan mengapa ia bercita-cita menjadi guru. Padahal dulunya, tidak. Saya tercengang mendengarnya!

Saya sudah salah duga. Dugaan saya alasan Umar bercita-cita menjadi guru sama atau mirip-mirp dengan alasan beberapa teman perempuan di kelasnya yang bercita-cita jadi guru. Yaitu karena cerita saya di depan kelas hampir 3 tahun yang lalu ketika Umar baru beberapa hari menginjakkan kakinya di ruang kelas di sekolah kami. Ternyata tidak. Inspirasi itu, datang, karena, di desa tempat tinggalnya, yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani kecil, buruh tani, dan pekerja kasar itu ada beberapa tetangganya berprofesi sebagai guru. Dan, tetangganya yang berprofesi sebagai guru itu, semuanya bermobil! Nah!


Iklan
Oleh: kusyardi | Maret 15, 2010

“Java Day” Butuh Keteladanan

Bahasa Jawa kini tengah naik daun. Jika sebelumnya tak banyak yang menaruh perhatian pada budaya adiluhung warisan nenek moyang ini, sekarang menjadi kembang lambe. Faktanya, tiga propinsi–Jateng, DIY, dan Jatim– yang mayoritas penduduknya berbahasa ibu bahasa Jawa gencar mengkampanyekan pentingnya bahasa Jawa. Baca Lanjutannya…

Oleh: kusyardi | Maret 13, 2010

Kartu Pemilih untuk Pemilu/Pilkada Mubazir

Menjelang penyelenggaraan pemilihan umum legislatif/presiden dan pilkada, setiap calon pemilih mendapatkan satu lembar kartu mungil ukuran surat izin mengemudi yang disebut ”Kartu Pemilih” .
Kartu mungil dengan cukup manis seolah sebuah penghargaan untuk calon pemilih, tetapi begitu menerima kartu serupa untuk kedua dan ketiga kali setiap menjelang pemilu/pilkada, terlontar pertanyaan: ”untuk apa kartu ini?” Baca Lanjutannya…

Kategori